Home | Profil Bangkalan | Profil Pemerintah | Instansi | DPRD | Organisasi
     
   
 

Keunikan Gelar Kirap Budaya 2009
Media Strategis Untuk Melestarikan Tatanan Adat dan Tradisi Khas Bangkalan

          SATU lagi, kegiatan unik berdaya pikat tinggi,  bakal ikut meramaikan gebyar peringatan hari jadi Kota Bangkalan yang ke 478 tahun ini. Jelasnya, bersamaan dengan tetenger hari jadi Kota Bangkalan Sabtu (24/10) mendatang, panitia induk hari jadi akan menggelar prosesi Kirap Budaya di seantero ruas jalan protokol jantung Kota Bangkalan. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, peserta kirap budaya antar kecamatan tahun ini tidak melibatkan masyarakat umum, melainkan lebih mengedepankan peserta dari kalangan pemuda dan pelajar, mulai dari kelembagaan pendidikan setingkat PAUD ( Pendidikan Anak Usia Dini ), TK, SD, SMP, SLTP dan SLTA di masing-masing kecamatan.
”Perubahan kebijakan itu, sesuai petunjuk dan arahan Bapak Bupati RKH Fuad Amin, SPd,  bukan tanpa tujuan dan alasan yang logis. Paling tidak, dengan melibatkan kalangan generasi muda ( pelajar-Red ) sebagai peserta, prosesi kirap budaya secara tidak langsung akan menjadi media pendidikan bagi anak-anak kita, agar mereka tidak hanya sekedar mengenal tatanan adat, tradisi dan keberagaman budaya khas daerah warisan leluhur rakyat Madura, tetapi lebih dari itu, juga diharap bisa ngemani, mencintai, serta berkehendak untuk melestarikan tatanan budaya asli daerah itu,”kata Asisten Ekonomi dan Kesejahteraan Rakyat Pemkab Bangkalan, Drs H Abdul Razak, yang juga berstatus sebagai penanggung jawab gelar Kirap Budaya 2009.”Dengan demikian, upaya untuk melestarikan kebudayaan khas daerah, akan tetap terjaga berkesinambungan dari generasi ke generasi,”imbuh mantan Kabag IKMD Setda setempat itu, Kamis ( 15/10 ) siang lalu, di ruang kerjanya.
Lebih dari itu, Razak menambahkan, gelar Kirap Budaya 2009 yang route prosesinya akan menelusuri antero ruas jalan protokol di jantung perkotaan Bangkalan, diharap bisa ditonton oleh komunitas masyarakat Kota Bangkalan dan sekitarnya, agar seluruh keunikan dan daya pikat keberagaman adapt, tradisi dan kebudayaan khas Kabupaten Bangkalan, bisa dikenal, diresapi dan dikristalisasikan dalam benak ingatan mereka.”Ini penting karena kebanyakan masyarakat umum saat ini, tidak lagi mengenal, apalagi memahami keadiluhungan tatanan budaya khas Madura, khususnya Bangkalan. Maklum, menyusul pesatnya kemajuan tehnologi dan arus informasi saat ini, kedaulatan tatanan tradisi, adat dan budaya khas daerah, jadi kian termarginalkan akibat rembesan dan intervensi kebudayaan asing asing yang semakin santer berhembus,”tegas Razak. Itu sebabnya, Razak menghimbau agar momentum gelar Kirap Budaya memperingati hari jadi Kota Bangkalan yang ke 478 kali ini, benar-benar dijadikan basis tontonan khalayak dari 18 kecamatan yang ada.”Insya Allah tontonan ini pasti menarik, unik dan menggelitik,”imbuh Razak.
Yang patut dipertanyakan di sini, adakah panitia pelaksana kirap telah mempersiapkan segala sesuatunya secara optimal, mengingat gelar Kirap Budaya 2009 kali ini bakal melibatkan ratusan, dan bahkan mungkin ribuan pelajar dari kelembagaan pendidikan setingkat PAUD, TK, SD, MI, SMP, MTs, SMA, SMK dan MA dari 18 kecamatan yang ada ?.”Alhamdulillah, kami bersama seluruh personal kepanitiaan lainnya telah melakukan detail persiapan seoptimal mungkin. Termasuk keterlibatan para pelajar sebagai peserta kirap, sudah kami sosialisasikan ke semua lembaga pendidikan baik negeri maupun swasta di 18 kecamatan yang ada,”papar Kepala Dinas Pendidikan Bangkalan, Drs H Setijabudhi, NK, MM, yang juga berstatus sebagai Ketua Panitia pelaksana Kirab Budaya 2009.”Termasuk tatanan upacara pembukaan, route kirap, serta model keberagaman adat, tradisi dan budaya khas  unggulan masing-masing kecamatan yang harus ditampilkan, sudah kami rencanakan secara matang,”imbuh mantan Kepala Bappeda dan Badan Inspektorat Pemkab Bangjkalan tersebut.
Lebih detail, senada dengan Razak, Setijabudhi mengatakan bahwa inisiatif untuk menggelar Kirap Budaya tahunan yang digagas oleh Bupati RKH Fuad Amin, SPd itu, setidaknya 4 tjuan dan missi penting. Diantaranya, gelar Kirap Budaya diniati sebagai nedia untuk menggali, melestarikan, serta mengembangkan nilai-nilai luhur kebudayaan khas daerah, khususnya Kabupaten Bangkalan.”Juga untuk menanamkan rasa cinta dan kebanggaan, serta rasa memiliki atas keberagaman budaya khas daerah sebagai warisan leluhur bangsa,”tutur Setijabudhi. Selain itu, gelar Kirap Budaya punya tujuan untuk ikut memperkenalkan, mempromosikan, serta mengembangkan potensi kepariwisataan khas Kabupaten Bangkalan, berikut sebagai filter untuk mengantisipasi rembesan dan pengaruh budaya asing yang tidak sesuai dengan kepribadian luhur bangsa Indonesia.”Jadi gelar Kirap Budaya yang kita laksanakan rutin setiap kali memperingati hari jadi Bangkalan itu, memiliki missi dan tjuan yang luhur,”tegas Setijabudhi.”Makanya, Bapak Bupati amat antusias untuk menjaga rutinitas dan kesinambungan event yang satu ini,”sambungnya.
Menyinggung soal mene keberagaman adapt, tradisi dan budaya khas mana saja yang bakal ditampilkan oleh masing-masing peserta kirap, panitia memasrahkan sepenuhnya kepada kreatifitas masing-masing kecamatan. Dalam konteks ini, bisa saja peserta kirap menampilkan tatanan adat temantenan, prosesi lamaran, tampilan kesenian khas kecamatan, maupun tradisi ritual berbasis religi keagamaan  atau kepercayaan yang berkembang di tengah masyarakat. Panitia yakin, keberagaman tatanan adat, tradisi dan kebudayaan seperti itu, masih banyak yang terpendam dan jarang dimunculkan kembali di era modernisasi jaman yang kian kompleks dan majemuk saat ini.”Seperti kecamatan di daerah pesisir seperti Kecamatan Arosbaya, Sepulu, Tanjung Bumi dan Kamal, misalnya, mereka memiliki tradisi ritual rokat tase’, sementara di daerah kecamatan pedalaman punya rokat bumeh,”ungkap Setijabudhi. “Sementara seperti Kecamatan Geger, misalnya, bisa juga menampilkan upacara ritual kuno bernama Hong Bah Hong dari Desa Katol Barat,”imbuhnya.
Demikian juga, kesenian unik khas masing-masing kecamatan, seperti angklung topeng Tambak Pocok dari Kecamatan Tanjung Bumi, angklung topeng Patengteng dari Kecamatan Modung, kesenian can macanan dari Kecamatan Tragah, jaran kencak dari Kecamatan Socah, barongan kitting dari Kecamatan Kamal, serta aneka ragam seni musik tradisional seperti ghul-ghul, thuk-thuk, seronen, atau kesenian Islami semacam sammanan, mocopat dan lainnya, boleh juga ditampilkan dalam prosesi Kirab Budaya 2009.”Jika serbaneka adat dan tradisi kuno ini dimunculkan kembali oleh masing-masing kecamatan, saya optimis prosesi Kirap Budaya 2009 kali ini, akan punya magned daya pikat tersendiri bagi kalangan masyarakat luas,”papar Setijabudhi.

Sepuluh Terbaik
Menurut Setijabudhi, mata rantai prosesi Kirap Budaya dalam rangka memperingati Hari Jadi Kota Bangkalan ke 478 kali ini, punya peluang untuk terlaksana lebih tertib, rapi dan enak ditonton dibanding tahun- ahun sebelumnya. Pasalnya, dalam gelar Kirap Budaya kali ini tidak sekedar mempertontonkan parade dan arak-arakan antar peserta kirap, tetapi lebih dari itu panitia akan mengemas prosesi kirap masing-masing peserta dalam bentuk lomba.”Aroma lomba ini, sudah barang tentu akan membuat peserta akan saling bersaing dalam adu ketertiban, penataan prosesi kirap, maupun menu keberagaman adat, tradisi dan kebudayaan khas ditampilkan oleh masing-masing peserta,”kata Setijabudhi. Untuk kepentingan itu, panitia akan memberikan penghargaan kepada 10 peserta dengan penampilan terbaik, berikut 8 penghargaan kepada peserta untuk menampilan harapan terbaik.”Apa bentuk dari penghargaan itu, ya kita lihat saja nanti,”imbuh Setijabudhi.
            Rencananya, gelar Kirap Budaya 2009,  Sabtu (24/10) nanti, akan dibuka dan dilepas langsung oleh Bupati bangkalan RKH Fuad Amin, SPd pukul 12.30 WIB di kompleks alun-alun selatan Kota Bangkalan. Route kirap yang akan diawali dengan parade keliling masing-masing peserta di lapangan alun-alun selatan, kemudian akan berlanjut sesuai dengan nomor urut stat masing-masing peserta untuk menelusuri sepanjang Jalan Veteran, Jalan Letnan Abdullah, Jalan Akhmad A Yani, Jalan Panglima Sudirman, Jalan Jaksa Agung Suprapto, Jalan Trunojoyo, Jalan Jokotole, Jalan Mayjen Sungkono, dan akan berakhir di Jalan Kartini sebagai finish kirap.
            Dilain pihak, koordinator piñata acara dan tehnik lapangan, Drs Hosen Sabana, menambahkan bahwa mata rantai prosesi Kirab Budaya 2009 nanti, prosesi barisan pembawa spanduk thema kirap budaya, barisan pembawa bendera merah-putih, kelompok pasukan berkuda, kelompok pasukan bo re bo, kelompok pasukan thuk-thuk, baru dilanjutkan oleh mata rantai barisan peserta kirap dari masing-masing kecamatan sesuai dengan nomor urut start mereka masing-masing.”Konfigurasi tatanan prosesi kirap semacam ini tak akan berubah mulai dari garis strat hingga garis finish,”kata Hosean Sabana.
            Yang menarik, seluruh undangan VIP dalam acara pembukaan dan pelepasan gelar Kirap Budaya, mulai dari Bupati, Wakil Bupati, anggota Muspida, Ketua dan Wakil Ketua DPRD, Ketua Tim Penggerak PKK, Sekwilda, serta seluruh pucuk pimpinan SKPD, akan mengenakan busana khas “ agunan “ alias busana kebesaran kaum bangsawan kraton tempo dulu. Sementara semua personal yang kebagian tugas sebagai perangkat upacara pembukaan, wajib memakai busana tradisional khas Madura  pesa’an.” Jadi nuansa adapt, tradisi dan budaya khasnya benar-benar tersaji secara kental, unik, menarik dan penuh daya pikat,”pungkas Drs Hosen Sabana. (SA-001)

 

   

Dimeriahkan Panggung Hiburan Rakyat
Gebyar PRB akan Tampilkan Ragam Produk Unggulan Khas Daerah


          SALAH satu kegiatan sentral  peringatan hari jadi Kota Bangkalan ke 478 yang juga diprediksi bakal mendapat sambutan hangat dari komunitas masyarakat luas, adalah gelar PRB ( Pekan Raya Bangkalan ). Rencananya, gebyar PRB yang akan dihelat sepekan suntuk mulai dari 27 s/d 31 Oktober 2009 di kompleks alun-alun utara Kota Bangkalan itu, tak hanya akan diwarnai oleh deretan stand peserta pameran pembangunan, tetapi setiap malamnya juga akan dimeriahkan oleh panggung hiburan rakyat.” Jadi, mulai dari sore hingga kisaran jam 22.00 malam, masyarakat Bangkalan tak hanya bisa berkeliling alun-alun meliha, mencermatit dan berbelanja berbagai produk unggulan khas daerah, tetapi lebih dari itu,  bisa pula bersantai ria sambil  nonton sajian hiburan rakyat,” kata Asisten Pembangunan Pemkab Bangkalan, Ir H Tamar Djaya, MM, selaku penanggung jawab terealisirnya gelar PRB.
            Menurut Tamar Djaya, selaras dengan kiat Bupati RKH Fuad Amin, SPd sebagai  penggagas  gawe PRB, kegiatan berbasis tata perekonomian rakyat itu merupakan agenda rutin tahunan yang mesti dihelat dalam rangka memperingati hari jadi Kota Bangkalan. Tak terkecuali, gelar PRB dalam rangka memperingati hari jadi Kota Bangkalan ke 478 tahun ini, sudah pasti akan kembali dihelat. Bahkan, segala tetek-bengek kesiapan yang berkait dengan rencana gelar PRB 2009 kali ini, telah dipersiapkan secara rapi-jali oleh panitia pelaksananya.” Kalau ingin tahu detail perencanaannya, coblah hubungi Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Drs H Geger Prayitno, MPd. Beliau adalah ketua panitia pelaksana kegiatan PRB,” papar mantan Kepala Dinas PU Cipta Karya dan Tata Ruang Pemkab Bangkalan tersebut.
            Lebih jauh Tamar Djaya menambahkan, melalui rutinitas gelar PRB ini, Bupati RKH Fuad Amin, SPd, amat berharap agar masyarakat luas baik dari lingkungan internal Kabupaten Bangkalan maupun luar pulau, bisa tahu persis detail perkembangan hasil pembangunan di wilayah kabupaten ujung barat Pulau Madura itu dari tahun ke tahun, baik itu berupa hasil pembangunan infrastruktur perkotaan maupun pedesaan, berikut perkembangan tata perekonomian dan kesejahteraan rakyat di lini pedesaan dan perkotaan.” Itu sebabnya, dari tahun ke tahun, termasuk dalam gelar PRB kali ini, pesertanya harus diikuti oleh semua SKPD, seluruh kecamatan di 18 kecamatan, BUMN, BUMD, serta kalangan pengusaha swasta di Kabupaten Bangkalan,” ungkap Tamar Djaya. Untuk kepentingan itulah, dalam kegiatan PRB nanti,  semua stand kecamatan peserta peserta PRB wajib menampilkan ragam produk unggulan yang dihasilkan oleh masing-masing kecamatan, sementara kalangan SKPD harus menyajikan tampilan data dan produksi yang menyuarakan kemajuan hasil kinerja mereka dari tahun ke tahun,” tegas Tamar Djaya.
            Penegasan Tamar Djaya, juga diamieni oleh Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Bangkalan, Drs H Geger Prayitno, MPd, selaku Ketua Panitia pelaksana kegiatan PRB. Menurut dia, sesuai restu dan persetujuan Bupati RKH Fuad Amin, SPd, gebyar PRB dalam rangka memperingati hari jadi Kota Bangkalan yang ke 478 tahun ini, bakal dihelat mulai tanggal 27 s/d 31 Oktober 2009 di kompleks alun-alun utara Kota Bangkalan.” Rencananya, pembukaan PRB  akan dilakukan langsung oleh Bapak Bupati RKH Fuad Amin, SPd, Selasa ( 27/10 ) pukul 15.00 sore. Termasuk penuntupannya Sabtu ( 31/10 ) pukul 22.00 malam mendatang,” kata Geger Prayitno.
            Menjawab kemungkinan animo peserta, Geger Prayitno menegaskan bahwa secara kuantitatif berapa jumlah stand pameran peserta PRB sudah bisa diprediksi karena sudah dipatok oleh panitia. Tegasnya, jika semua peserta hadir dan membuka stand, jumlah total peserta PRB akan mencapai 86 stand. Rinciannya, dari kalangan SKPD, diploting sebanyak 50 peserta ( stand ), terdiri dari 9 unit stand milik badan, 15 unit stand milik dinas, 4 unit stand milik kantor, 2 unit stand milik BUMD, 2 unit stand milik secretariat, serta 18 unit stand untuk 18 kecamatan.” Nah, 18 stand pameran dari 18 kecamatan inilah yang diharap banyak memunculkan sajian ragam produk unggulan hasil karya para perajin home industri di masing-masing kecamatan,” papar Geger.
Sementara stand pameran yang didirikan oleh SKPD dari lingkup dinas, badan, kantor, secretariat dan BUMD, menurut Geger, diharap menampilkan sajian data, foto, maupun ragam produksi hasil prestasi dan kemajuan kinerja mereka.” Seperti Dinas PU Cipta Karya dan Tata Ruang serta Dinas PU Bina Marga dan Pengairan, misalnya,  bisa menampilkan sajian data perkembangan dan kemajuan hasil pembangunan infrastruktur perkotaan dan pedesaan dalam wujud tabel, grafik, maupun aaudio visual. Sementara Dinas Pertanian dan Perternakan, Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Kehutanan, bisa saja mempertontonkan perkembangan hasil produksi sektor pertanian, seperti buah-buahan, kacang-kacangan, madu hutan, hasil pengasinan ikan dan lainnya,”imbuh Geger.
Sisanya, sebanyak 36 stand peserta lainnya, akan diisi oleh 5 lembaga perbankan, 5  ormas, 6 UKM, 2 lembaga industri besar, 2 BUMN, 2 industri besar, 10 pengusaha swasta, serta 6 unit stand untuk cafeteria ( café ) untuk mamin ( makanan dan minuman ) khas Madura.” Jika semua peserta benar-benar hadir dan memunculkan pajangan produk unggulan mereka masing-masing, saya yakin PRB akan menjadi tontonan menarik, ramai dikunjungi masyarakat, serta memiliki nilai ekonomis lumayan prospektif bagi rakyat kecil, utamanya mbagi mereka yang bergerak di sektor usaha home industri,”tutur Geger.
Lebih jauh Geger menambahkan, semua peserta PRB, utamanya stand pameran dari 18 kecamatan, sungguh memiliki peluang dan kesempatan besar untuk menyajikan, menawarkan dan menjual ragam produk unggulan mereka kepada khalayah pengunjung PRB. Pasalnya, masing-masing kecamatan sama memiliki ragam produk unggulan khas daerah masing-masing. Seperti kecamatan Socah, misalnya, sejak dulu amat popular sebagai lumbung penghasil petis, kerupuk terung dan sangkar perkutut berkualitas tinggi, sementara Kecamatan Klampis terkenal akan produksi terasi tradisionalnya, Kwanyar dengan kerupuk sangrai-nya, Kecamatan Burneh dengan emping melinjonya, berikut Kecamatan Tanjung Bumi dengan produksi batik tulis dan produk pengasinan ikan lautnya.
Demikian juga, Kecamatan Kokop punya produk unggulan tikar dan souvenir arts dari tali agel, Tragah punya produk cincin monel dan batu akiknya, sementara Kecamatan Arosbaya dan Geger punya produk unggulan ranjang palek dan lainnya.” Pokoknya, setiap kecamatan pasti punya produk unggulan masing-masing. Lebih dari itu, masih banyak produk unggulan baru hasil pengembangan inovatif para pelaku home industri yang bisa ditampilkan dalam ajang PRB.”Diantaranya, sekarang ini banyak bermunculan produk baru  home industri yang memanfaatkan bahan baku hasil tanaman horticultura, seperti sirup salak, siruh nangka, sirup rambutan, keripik nangka, keripik salak, dodol salak, dodol mangka dan masih banyak lagi. Itu semua, juga bisa dipromosikan kepada publik,”harap Geger.
Selain itu, menurut Geger Prayitno, masing-masing stand pameran peserta PRB, punya kewajiban khusus yang harus ditampilkan selama sepekan penuh. Jelasnya, masing-masing stand pameran harus mempromosikan pajangan batik tulis khas Kabupaten Bangkalan, entah itu batik tulis khas Tanjung Bumi atau batik khas Desa Patengteng. Kecamatan Modung.” Sesuai anjuran Bapak Bupati RKH Fuad Amin, SPd, kawajiban ini harus dipatuhi oleh semua pihak, menyusul penaguan hak patent dari Unesco bahwa batik tulis merupakan hak patent negara Indonesia. Nah, melalui PRB ini, kita harus membuktikan bahwa Kabupaten Bangkalan memiliki hak patent atas produksi batik tulis tradisional berkualitas tinggi asal Tanjung Bumi dan Patengteng,” tega Geger Prayitno.
Nuansa daya pikat sepekan gelar PRB dalam rangka memperingati hari jadi Kota Bangkalan ke 478 kali ini, seperti tahun-tahun sebelumnya, tidak hanya akan diaktualisasikan oleh sajian ragam produk unggulan khas antar kecamatan saja, tetapi lebih dari itu akan dimeriahkan pula tampilan ragam kesenian daerah melalui panggung hiburan rakyat. Untuk tahun ini, panggung hiburan rakyat di arena PRB sepenuhnya akan diisi oleh penuangan kreatifitas pelajar SMP, SMA dan mahasiswa dari masing-masing lembaga pendidikan secara bergiliran.” Apa bentuk dari sajian mereka, ya kami pasrahkan sepenuhnya pada kreatifitas pelajar. Bisa saja dalam bentuk penampilan group band berirama musik pop, dangdut, musik rock atau bisa pula dalam bentuk teatrikal,” ungkap Geger. Khusus untuk Kamis ( 29/10 ) malam Jumat, panggung hiburan PRB akan diisi oleh seni musik bernafaskan Islami dari kalangan pondok pesantren. Kepada khalayak di antero Kabupaten Bangkalan, Geger Prayitno berharap agar mereka bisa meluangkan waktu untuk menyaksikan arena PRB selama sepekan suntuk.” Setiap harinya, arena PRB akan dibuka mulai pukul  15.00 sore hingga 22.00 malam,” pungkas Drs Geger Prayitno. (SA-001)


Dishubkominfo Bangkalan
web7+